Di jantung Skotlandia, tepatnya di kawasan pegunungan Highland yang terkenal dengan pemandangan dramatisnya, sebuah fenomena alam yang jarang terjadi kembali mencuri perhatian para peneliti dan pecinta lingkungan. Salah satu patch salju abadi yang selama berabad-abad hampir selalu bertahan di musim panas, kini dinyatakan menghilang sepenuhnya. Hilangnya salju abadi ini menandai kali keempat dalam sejarah modern, dan banyak ilmuwan menilai hal ini sebagai sinyal kuat mengenai laju perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Sejarah Panjang Salju Abadi di Skotlandia
Meskipun dikenal dengan iklim yang relatif sejuk dan lembap, Skotlandia bukanlah negara yang identik dengan gletser besar seperti yang ada di Islandia, Norwegia, atau Alpen. Namun, beberapa titik di kawasan dataran tinggi, khususnya di Pegunungan Cairngorms dan Ben Nevis, menyimpan patch salju kecil yang sering kali bertahan sepanjang tahun. Bagi masyarakat lokal dan peneliti, salju ini bukan sekadar lapisan es; ia merupakan simbol kontinuitas alam, catatan alami tentang kondisi cuaca ekstrem, serta indikator penting kesehatan lingkungan pegunungan.
Dalam catatan sejarah, patch salju ini sudah diamati sejak abad ke-19 oleh pendaki gunung dan ahli meteorologi. Selama sebagian besar abad ke-20, meski ada tahun-tahun panas, salju tetap bisa bertahan hingga musim dingin berikutnya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, keberlangsungan salju ini semakin terancam. Perubahan pola cuaca, gelombang panas yang lebih sering, serta musim panas yang lebih panjang membuat keberadaan salju abadi kian rapuh.
Hilangnya Salju di Tahun 2025
Tahun ini, laporan terbaru dari kelompok pendaki gunung dan ilmuwan lokal menyebutkan bahwa salah satu patch salju terbesar di Highland Skotlandia, yang biasanya mampu bertahan hingga akhir tahun, telah menghilang total. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan terjadi akibat kombinasi musim panas yang sangat panas, curah hujan yang menurun, serta angin yang mempercepat pencairan.
Data meteorologi menunjukkan bahwa musim panas 2025 di Inggris Raya, termasuk Skotlandia, mencatat suhu rata-rata tertinggi dalam kurun waktu 150 tahun terakhir. Bahkan, beberapa titik di Highland mengalami suhu siang hari yang melebihi 30°C, angka yang sangat jarang terjadi di wilayah tersebut. Akibatnya, cadangan salju yang tersisa sejak musim dingin lalu tidak mampu bertahan, meski pada awal tahun jumlahnya cukup tebal.
Dampak Ekologis
Hilangnya patch salju di Highland bukan hanya soal simbol alam semata. Dampaknya cukup luas, terutama pada ekosistem pegunungan.
-
Habitat Satwa
Beberapa spesies hewan, seperti burung ptarmigan atau serangga tertentu, sangat bergantung pada iklim dingin pegunungan. Salju yang bertahan lama memberi mereka area perlindungan dari suhu panas. Tanpa keberadaan salju ini, pola migrasi dan keberlangsungan hidup satwa dapat terganggu. -
Cadangan Air Alami
Salju abadi berperan sebagai reservoir air alami yang melepas cairannya perlahan sepanjang musim panas. Dengan hilangnya cadangan ini, aliran sungai dan mata air di kawasan pegunungan bisa berkurang, berdampak pada pasokan air bersih bagi desa-desa di sekitar Highland. -
Kerentanan Erosi
Salju dan es juga berfungsi melindungi lapisan tanah dari paparan langsung angin serta hujan. Tanpa perlindungan ini, risiko erosi meningkat, terutama di daerah lereng curam yang rawan longsor.
Perspektif Ilmiah
Banyak ilmuwan menilai hilangnya salju abadi ini sebagai peringatan dini mengenai percepatan perubahan iklim di Eropa. Dr. Malcolm Henderson, seorang klimatolog asal Edinburgh, menekankan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian tunggal. Menurutnya, empat kali hilangnya salju dalam kurun 20 tahun terakhir mengindikasikan tren jangka panjang, bukan sekadar anomali musiman.
Ia juga menambahkan bahwa salju abadi di Highland berfungsi sebagai “termometer alami” yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Jika area dengan iklim relatif dingin seperti Skotlandia mulai kehilangan salju abadi, maka dapat dipastikan daerah lain dengan kondisi serupa di dunia juga mengalami risiko yang sama atau bahkan lebih parah.
Suara dari Masyarakat Lokal
Bagi penduduk Highland, fenomena ini juga menyimpan sisi emosional. Banyak warga yang tumbuh besar dengan pemandangan puncak bersalju sepanjang tahun kini merasakan kehilangan. “Dulu, kakek saya selalu bilang bahwa gunung-gunung ini tidak pernah telanjang, selalu ada salju yang bertahan. Sekarang, rasanya aneh melihatnya hilang begitu cepat,” ujar seorang pendaki lokal.
Selain itu, komunitas pariwisata yang menggantungkan penghasilan dari pendakian musim dingin dan olahraga salju juga ikut terdampak. Tanpa salju yang bertahan lama, musim wisata salju semakin singkat. Hal ini dapat berimplikasi langsung pada ekonomi lokal yang selama ini bertumpu pada keindahan alam Highland.
Refleksi Global
Fenomena di Skotlandia sejatinya mencerminkan pola global. Di berbagai belahan dunia, gletser dan salju abadi sedang mengalami penyusutan drastis. Dari Alpen di Eropa, pegunungan Himalaya di Asia, hingga Andes di Amerika Selatan, semuanya menunjukkan tren yang sama: es mencair lebih cepat dari yang diperkirakan.
Menurut laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), jika suhu global terus meningkat di atas ambang batas 1,5°C hingga 2°C, maka sebagian besar salju abadi di pegunungan dengan ketinggian rendah akan hilang permanen sebelum akhir abad ini. Artinya, apa yang terjadi di Skotlandia adalah bagian kecil dari gambaran besar yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Upaya Mitigasi dan Harapan
Meski fenomena ini tampak suram, masih ada harapan. Para ilmuwan menekankan bahwa langkah-langkah mitigasi iklim seperti pengurangan emisi karbon, transisi ke energi terbarukan, serta konservasi hutan dapat membantu memperlambat laju pencairan es di seluruh dunia.
Di tingkat lokal, organisasi lingkungan di Skotlandia juga mulai gencar melakukan kampanye kesadaran publik. Mereka mendorong wisatawan, pendaki, dan masyarakat umum untuk memahami pentingnya menjaga kelestarian alam serta mengurangi jejak karbon. Edukasi ini diharapkan bisa menciptakan generasi baru yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Selain itu, ada pula inisiatif ilmiah berupa pemantauan satelit dan penggunaan drone untuk melacak perubahan salju dari waktu ke waktu. Data ini sangat berharga untuk memahami pola pencairan dan merumuskan strategi adaptasi.
Simbol Kehilangan dan Panggilan untuk Bertindak
Hilangnya salju abadi di Highland Skotlandia tahun ini bukan sekadar catatan meteorologi, melainkan simbol kehilangan yang lebih besar. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan, tetapi kenyataan yang sedang terjadi di depan mata.
Bagi banyak orang, pegunungan Highland selalu identik dengan keabadian, kekuatan, dan ketenangan. Namun kini, alam memberikan tanda bahwa bahkan lanskap yang tampak kokoh sekalipun rentan terhadap dampak aktivitas manusia.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan iklim nyata, tetapi bagaimana dunia meresponsnya. Mampukah manusia menahan laju pemanasan global sebelum kerusakan semakin meluas? Ataukah generasi mendatang hanya akan mengenal salju abadi Highland lewat foto dan catatan sejarah?