1. Pendahuluan
Pasar mata uang dunia kembali menjadi sorotan pada awal Februari 2026 setelah Dolar Amerika Serikat (USD) menunjukkan tanda‑tanda pemulihan yang cukup signifikan. Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika politik yang belum pernah terjadi sebelumnya: Presiden Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve (Fed) Kevin Warsh untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua lembaga moneter terbesar di dunia. Keputusan tersebut menimbulkan spekulasi luas tentang arah kebijakan moneter AS, menstimulasi pergerakan nilai tukar dolar, dan sekaligus menimbulkan pertanyaan apakah rebound yang terlihat akan bertahan atau hanya bersifat sementara. Artikel ini menguraikan latar belakang penunjukan, faktor‑faktor yang memengaruhi pergerakan dolar, serta proyeksi jangka pendek dan menengah berdasarkan data pasar dan analisis para pakar.
2. Latar Belakang Penunjukan Kevin Warsh
Kevin Warsh, yang pernah menjabat sebagai gubernur Fed pada era 2006–2011, dikenal sebagai sosok yang cenderung hawkish, yakni mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menahan inflasi. Selama masa jabatannya, Warsh menekankan pentingnya menurunkan ekses likuiditas dan memperkuat kredibilitas Fed dalam mengendalikan tekanan harga. Penunjukan Warsh oleh Presiden Trump menandai pergeseran kebijakan yang signifikan dari pendekatan dovish yang diadopsi oleh Jerome Powell, yang lebih menekankan pada dukungan pertumbuhan ekonomi melalui suku bunga yang rendah.
Penunjukan ini menimbulkan dua reaksi utama di pasar:
- Optimisme sementara bahwa Warsh akan menegaskan komitmen Fed terhadap kontrol inflasi, yang secara tradisional menguatkan dolar.
- Kekhawatiran tentang volatilitas karena kebijakan yang lebih keras dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, terutama di negara‑negara yang sangat tergantung pada aliran modal AS.
3. Dinamika Pasar pada Awal Februari 2026
3.1 Indeks Dolar (DXY)
Pada tanggal 3 Februari 2026, indeks Dolar (DXY) – yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk Euro, Yen, Pound, dan lainnya – mencatat kenaikan 0,28 % menjadi 97,68. Kenaikan ini merupakan respons langsung terhadap spekulasi bahwa Warsh, jika terpilih, akan mengadopsi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kenaikan DXY biasanya diikuti oleh penurunan nilai tukar mata uang lain, terutama yang memiliki kebijakan moneter lebih longgar.
3.2 Pengaruh Terhadap Mata Uang Lain
- Euro (EUR): Menurun menjadi $1,1797 per euro, mencerminkan tekanan pada zona euro yang masih bergulat dengan kebijakan suku bunga yang relatif longgar dibandingkan Amerika.
- Yen Jepang (JPY): Menguat terhadap dolar hingga 156,68 yen per dolar, mengindikasikan permintaan safe‑haven yang beralih ke yen setelah volatilitas dolar meningkat.
- Pound Inggris (GBP): Menurun 0,31 % menjadi $1,3655, mengisyaratkan tekanan pada ekonomi Inggris yang sedang menghadapi kebijakan moneter ketat di luar negeri.
3.3 Volatilitas di Pasar Komoditas
Kenaikan dolar biasanya menekan harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar, seperti emas dan perak. Pada periode yang sama, harga emas mengalami penurunan 9 % dalam satu sesi, sementara perak turun 30 % – penurunan terbesar sejak 1980. Penurunan ini menandakan bahwa investor mengalihkan dana ke aset berisiko lebih tinggi dalam rangka mengejar hasil yang lebih tinggi, meski dengan eksposur terhadap volatilitas mata uang.
4. Analisis Faktor‑Faktor yang Mendorong Rebound Dolar
4.1 Ekspektasi Kebijakan Moneter yang Lebih Ketat
Pasar selalu bereaksi terhadap sinyal kebijakan moneter. Penunjukan Warsh menimbulkan ekspektasi bahwa Fed akan meningkatkan suku bunga atau setidaknya mengurangi stimulus moneter lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Kenaikan suku bunga meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar karena imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap dolar naik.
4.2 Ketidakpastian Politik AS
Presiden Trump, yang kembali ke Gedung Putih, menimbulkan ketidakpastian kebijakan fiskal dan regulasi yang dapat memengaruhi pasar secara luas. Di satu sisi, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dapat memperlemah dolar, tetapi di sisi lain, penunjukan Warsh menunjukkan niat untuk menyeimbangkan kebijakan tersebut dengan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kombinasi ini menciptakan dinamika ganda yang memicu pergerakan volatilitas tinggi di pasar FX.
4.3 Sentimen Investor Global
Investor institusional dan ritel di seluruh dunia terus memantau pernyataan pejabat Fed dan pejabat pemerintah AS. Ketika Warsh menyatakan bahwa inflasi tetap menjadi prioritas utama, investor cenderung menambah posisi dolar sebagai perlindungan terhadap potensi inflasi. Namun, jika kebijakan yang lebih ketat dianggap dapat menekan pertumbuhan ekonomi, aliran dana dapat beralih kembali ke aset alternatif seperti emas, obligasi, atau mata uang emerging market.
4.4 Pengaruh Data Ekonomi AS
Data ekonomi penting – seperti angka pengangguran, pertumbuhan PDB, dan indeks manufaktur – juga memainkan peran kritis. Pada minggu pertama Februari 2026, data penjualan ritel dan produksi industri menunjukkan perlambatan, menambah kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Penurunan ini memperkuat narasi bahwa Fed perlu menindak inflasi dengan lebih agresif, sehingga menambah tekanan pada dolar.
5. Pandangan Para Pakar dan Survei Strategi Mata Uang
Sebuah survei yang dilakukan oleh Reuters pada tanggal 4 Februari 2026 mengumpulkan pendapat 30 strategis mata uang dari bank investasi, hedge fund, dan lembaga keuangan terkemuka. Berikut beberapa temuan utama:
- Mayoritas (≈ 68 %) memperkirakan bahwa rebound dolar akan bersifat sementara, dan bahwa dolar akan kembali pada tren penurunan moderat selama sisa tahun 2026.
- 15 % memperkirakan bahwa dolar dapat menguat lebih lanjut jika Fed meningkatkan suku bunga lebih cepat dari ekspektasi pasar, terutama jika inflasi tetap di atas target 2 %.
- 17 % berpendapat bahwa geopolitik (misalnya, ketegangan di Timur Tengah atau kebijakan China) akan menjadi faktor dominan yang dapat mengganggu korelasi tradisional antara kebijakan moneter AS dan nilai dolar.
Para analis menyoroti bahwa indeks volatilitas VIX pada periode tersebut meningkat tajam, menandakan ketidakpastian pasar yang tinggi. Mereka juga mencatat bahwa likuiditas di pasar spot FX tetap tinggi, memungkinkan pergerakan nilai tukar yang cepat namun dapat berbalik dalam hitungan jam.
6. Proyeksi Jangka Pendek dan Menengah
6.1 Jangka Pendek (1‑3 Bulan)
- Dolar AS: Diperkirakan akan berfluktuasi dalam rentang 96‑99 pada indeks DXY, tergantung pada kejelasan proses nominasi Warsh dan data ekonomi AS yang dirilis.
- Euro dan Yen: Kemungkinan tetap berada di level $1,18 per euro dan ¥155‑160 per dolar, kecuali terjadi kejutan kebijakan di Eropa atau Jepang.
- Komoditas: Harga emas dan perak dapat mengalami koreksi lebih lanjut jika dolar menguat, namun kemungkinan akan menemukan level support di $4.900 per ons (emas) dan $75 per ons (perak).
6.2 Jangka Menengah (6‑12 Bulan)
- Kebijakan Fed: Jika Warsh resmi terpilih dan memimpin Fed, kemungkinan kenaikan suku bunga sebanyak 25‑50 basis poin pada kuartal berikutnya, diikuti oleh penurunan neraca (balance sheet reduction) untuk menurunkan likuiditas.
- Dolar AS: Dengan kebijakan yang lebih ketat, dolar dapat kembali menguat, namun faktor global (misalnya, kebijakan moneter Bank of England, ECB, dan BoJ) serta geopolitik akan memoderasi tren ini. Proyeksi rata‑rata indeks DXY pada akhir 2026 berkisar 100‑102.
- Risiko Resesi: Kenaikan suku bunga yang cepat dapat menurunkan permintaan domestik dan global, meningkatkan risiko resesi di AS dan negara‑negara mitra dagang, yang pada gilirannya dapat menurunkan permintaan dolar.
7. Implikasi bagi Investor dan Pelaku Bisnis
7.1 Diversifikasi Portofolio
Investor yang mengandalkan eksposur dolar sebagai aset safe‑haven sebaiknya menyebar risiko dengan menambahkan aset non‑dolar, seperti emas, obligasi korporasi berkualitas tinggi, atau mata uang emerging market. Diversifikasi akan mengurangi dampak volatilitas nilai tukar yang dipicu oleh kebijakan moneter yang berubah‑ubah.
7.2 Strategi Hedging
Perusahaan yang memiliki eksposur pendapatan dalam dolar, misalnya perusahaan eksportir atau importir, dapat menggunakan kontrak forward atau opsi mata uang untuk melindungi nilai tukar. Mengingat volatilitas tinggi pada awal Februari, strategi hedging jangka pendek (1‑3 bulan) dapat memberikan perlindungan yang lebih efektif.
7.3 Penempatan Aset dalam Instrumen Pendapatan Tetap
Jika Fed meningkatkan suku bunga, obligasi pemerintah AS akan mengalami penurunan harga, tetapi obligasi korporasi dengan rating tinggi dapat menawarkan yield yang lebih menarik. Investor yang menargetkan pendapatan tetap dapat mempertimbangkan ETF obligasi yang berfokus pada sekuritas berjangka pendek untuk mengurangi sensitivitas terhadap perubahan suku bunga.
7.4 Perdagangan Mata Uang
Trader FX yang mengandalkan strategi momentum dapat memanfaatkan breakout pada indeks DXY di atas 98 sebagai sinyal beli dolar, dengan penetapan stop‑loss di level 96,5. Sebaliknya, strategi mean reversion dapat memanfaatkan penurunan kembali ke level rata‑rata historis (≈ 97) setelah volatilitas berkurang.
8. Kesimpulan
Rebound Dolar Amerika Serikat pada awal Februari 2026 merupakan reaksi pasar yang logis terhadap penunjukan Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve. Meskipun penunjukan tersebut meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, mayoritas analis menilai bahwa kekuatan rebound bersifat sementara. Faktor‑faktor yang akan menentukan arah pergerakan dolar ke depan meliputi:
- Keberhasilan proses nominasi dan kejelasan mandat Warsh sebagai ketua Fed.
- Data ekonomi AS yang dapat memperkuat atau melemahkan argumen kebijakan hawkish.
- Sentimen global yang dipengaruhi oleh risiko geopolitik, kebijakan bank sentral lain, dan dinamika pasar komoditas.
Bagi pelaku pasar, pendekatan yang bijaksana meliputi diversifikasi aset, penggunaan instrumen hedging, dan pemantauan terus‑menerus terhadap indikator makroekonomi serta komunikasi resmi Fed. Dengan menggabungkan analisis fundamental dan teknikal, investor dapat menavigasi volatilitas yang masih tinggi ini dan mengambil keputusan yang lebih terinformasi.
