Nama He Jiankui pernah menjadi simbol dari salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan modern. Ilmuwan asal Tiongkok ini mengguncang dunia pada tahun 2018 ketika ia mengumumkan kelahiran bayi kembar pertama di dunia yang gennya diedit menggunakan teknologi CRISPR-Cas9. Tindakan tersebut langsung memicu kecaman internasional, tidak hanya karena aspek teknisnya, tetapi juga karena pelanggaran etika, prosedur penelitian, dan standar keselamatan yang berlaku secara global. Setelah menjalani hukuman penjara dan sanksi profesional, He Jiankui kini kembali menjadi sorotan publik internasional karena upayanya untuk kembali ke dunia bioteknologi, khususnya dalam penelitian penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Kembalinya He Jiankui ke panggung ilmiah menimbulkan perdebatan tajam. Di satu sisi, ia mengklaim telah belajar dari kesalahan masa lalu dan ingin berkontribusi secara etis dan bertanggung jawab terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, banyak ilmuwan, bioetikus, dan lembaga penelitian mempertanyakan apakah seseorang dengan rekam jejak pelanggaran serius dapat kembali dipercaya dalam riset yang melibatkan manusia dan teknologi berisiko tinggi.
Latar Belakang Kontroversi CRISPR
Untuk memahami besarnya polemik ini, penting melihat kembali peristiwa yang mengubah karier He Jiankui secara drastis. Pada 2018, ia mengumumkan bahwa ia telah mengedit gen CCR5 pada embrio manusia dengan tujuan membuat bayi kebal terhadap virus HIV. Eksperimen tersebut dilakukan tanpa transparansi, tanpa persetujuan etik yang sah, dan dengan risiko kesehatan jangka panjang yang belum dapat diprediksi. Komunitas ilmiah internasional secara hampir bulat mengecam tindakan ini sebagai prematur, tidak bertanggung jawab, dan melanggar prinsip dasar bioetika.
Akibatnya, He Jiankui dijatuhi hukuman penjara dan dilarang melakukan aktivitas penelitian ilmiah untuk jangka waktu tertentu. Reputasinya runtuh, dan namanya menjadi contoh ekstrem tentang bagaimana kemajuan teknologi tanpa kendali etika dapat membahayakan manusia.
Upaya Rehabilitasi Ilmiah
Setelah menyelesaikan masa hukumannya, He Jiankui mulai menunjukkan tanda-tanda ingin kembali ke dunia akademik. Dalam beberapa pernyataan publik, ia menyampaikan penyesalan atas tindakannya di masa lalu dan mengakui bahwa ambisinya kala itu telah melampaui pertimbangan etika. Ia menyatakan bahwa kesalahan tersebut menjadi pelajaran penting dalam hidup dan karier ilmiahnya.
Kini, fokus riset yang ia tawarkan berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi berbicara tentang penyuntingan gen embrio manusia, melainkan menargetkan penelitian penyakit Alzheimer dan gangguan neurologis lainnya. Ia berargumen bahwa penyakit neurodegeneratif merupakan tantangan besar bagi umat manusia dan memerlukan terobosan ilmiah yang signifikan, termasuk eksplorasi genetika dengan pengawasan ketat.
Alzheimer dan Tantangan Ilmu Pengetahuan
Penyakit Alzheimer adalah salah satu masalah kesehatan global terbesar abad ini. Penyakit ini bersifat progresif, merusak fungsi kognitif, dan hingga kini belum memiliki obat yang benar-benar menyembuhkan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran penting dalam perkembangan Alzheimer, meskipun tidak berdiri sendiri.
Dalam konteks inilah He Jiankui menyatakan ingin berkontribusi. Ia menekankan bahwa pendekatannya kini bersifat eksperimental di tingkat sel dan hewan, bukan pada manusia, serta mengikuti prosedur etik yang lebih ketat. Menurut klaimnya, teknologi genetik, jika digunakan secara bertanggung jawab, berpotensi membuka jalan bagi terapi baru yang lebih efektif.
Reaksi Komunitas Ilmiah
Meski demikian, reaksi komunitas ilmiah terhadap kembalinya He Jiankui cenderung skeptis. Banyak ilmuwan berpendapat bahwa masalah utama bukan semata pada jenis penelitian yang ia lakukan, melainkan pada soal kepercayaan. Ilmu pengetahuan modern sangat bergantung pada integritas, transparansi, dan kepatuhan terhadap aturan. Sekali kepercayaan tersebut rusak, memulihkannya bukan perkara mudah.
Sebagian pakar bioetika menyatakan bahwa kesempatan kedua seharusnya tetap ada, tetapi harus disertai pengawasan yang luar biasa ketat. Mereka berpendapat bahwa menutup pintu sepenuhnya bagi seseorang yang pernah melanggar etika dapat menghambat prinsip rehabilitasi dalam dunia akademik. Namun, kelompok lain menilai bahwa risiko yang dibawa terlalu besar, terutama jika melibatkan teknologi yang dapat mengubah kehidupan manusia secara permanen.
Dilema Etika dan Pelajaran Global
Kasus He Jiankui menjadi cermin bagi dunia internasional tentang perlunya regulasi global yang lebih kuat terhadap teknologi genetika. Kemajuan sains bergerak sangat cepat, sementara kerangka hukum dan etika sering kali tertinggal. Tanpa sistem pengawasan yang solid, peneliti individual dapat mengambil keputusan besar yang berdampak luas bagi umat manusia.
Upaya kembalinya He Jiankui juga memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana dunia ilmiah bersedia memaafkan pelanggaran masa lalu demi potensi kontribusi masa depan? Tidak ada jawaban tunggal atas pertanyaan ini. Setiap keputusan mengandung konsekuensi moral, ilmiah, dan sosial yang kompleks.
Masa Depan He Jiankui
Apakah He Jiankui benar-benar dapat kembali menjadi bagian dari komunitas ilmiah yang dihormati masih menjadi tanda tanya besar. Banyak faktor akan menentukan, mulai dari transparansi risetnya, kepatuhan terhadap standar etika, hingga kesediaan lembaga independen untuk mengawasi setiap langkahnya. Dunia akan mengamati dengan cermat, karena kasus ini bukan hanya tentang satu individu, melainkan tentang arah masa depan bioteknologi manusia.
Jika ia gagal mematuhi prinsip etika yang ketat, maka kembalinya ia ke dunia riset akan semakin memperkuat stigma negatif yang telah melekat. Namun, jika ia mampu membuktikan perubahan sikap dan komitmen terhadap keselamatan serta etika, kasus ini dapat menjadi contoh bahwa ilmu pengetahuan juga mengenal proses refleksi dan pembelajaran dari kesalahan.
Penutup
Kisah He Jiankui adalah peringatan keras tentang kekuatan sekaligus bahaya teknologi modern. Di era ketika manusia memiliki kemampuan untuk mengubah kode dasar kehidupan, tanggung jawab moral menjadi sama pentingnya dengan kecanggihan ilmiah. Upaya kembalinya He Jiankui ke dunia bioteknologi bukan sekadar berita sains, melainkan diskusi global tentang batas, kepercayaan, dan masa depan umat manusia.
Apakah ia akan dikenang sebagai ilmuwan yang belajar dari kesalahan atau sebagai simbol pelanggaran etika yang tak termaafkan, masih akan ditentukan oleh waktu dan tindakan nyata yang ia ambil ke depan.
